Penalaran Ilmiah
Definisi penalaran ilmiah
Penalaran
adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah
kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi,
pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas).
Menurut Widjono, (2007 : 209), mengungkapkan
penalaran dalam beberapa definisi, yaitu:
1)
Proses berpikir
logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai
dengan simpulan.
2)
Menghubung-hubungkan
fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
3)
Proses
menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian
baru.
4)
Dalam karangan
terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji,
membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai
menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
5)
Pembahasan suatu
masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau
pengertian baru.
Proposisi
Proposisi
adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat.
Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk
subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat. Kalimat Tanya,kalimat
perintah, kalimat harapan,dan kalimat inversi tidak dapa disebut proposisi.
Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Tetapi
kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi
kalimat berita yang netral.
Jenis
– jenis proposisi
Menurut
Widjono, (2007 : 210), unsur penalaran penulisan ilmiah adalah sebagai berikut:
1)
Proposisi
mempunyai beberapa jenis, antara lain:
a)
Proposisi empirik
yaitu proposisi berdasarkan fakta.
b)
Proposisi mutlak
yaitu pembenaran yang tidak memerlukan pengujian untuk menyatakan benar atau
salahnya.
c)
Proposisi
hipotetik yaitu persyaratan huungan
subjek dan predikat yang harus dipenuhi.
d)
Proposisi
kategoris yaitu tidak adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat.
e)
Proposisi positif
universal yiatu pernyataan positif yang mempunyai kebenaran mutlak.
f)
Proposisi positif
parsial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsur pernyataan tersebut bersifat
positif.
g)
Proposisi negatif
universal, kebalikan dari proposisi positif universal.
h)
Proposisi negatif
parsial, kebalikan dari proposisi negatif parsial.
Berdasarkan
sifat, proporsisi dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu:
·
Kategorial adalah
proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan /
memerlukan syarat apapun.
Contoh: Semua kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat. Semua daun pasti berwarna hijau.
Contoh: Semua kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat. Semua daun pasti berwarna hijau.
·
Kondisional adalah proposisi yang membutuhkan
syarat tertentu di dalam hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi dapat
dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu: proposisi kondisional hipotesis dan
disjungtif.
a)
Contoh proposisi
kondisional:
jika hari mendung maka akan turun hujan
jika hari mendung maka akan turun hujan
b)
Contoh proposisi
kondisional hipotesis:
Jika harga BBM turun maka rakyat akan bergembira.
Jika harga BBM turun maka rakyat akan bergembira.
c)
Contoh proposisi
kondisional disjungtif:
Christiano ronaldo pemain bola atau bintang iklan.
Christiano ronaldo pemain bola atau bintang iklan.
Inferensi dan Implikasi
· Definisi
inferensi
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar. Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai idiomatik. Hukum valid inference dipelajari dalam bidang logika.
Inferensi manusia (yaitu bagaimana manusia menarik kesimpulan) secara tradisional dipelajari dalam bidang psikologi kognitif, kecerdasan buatan para peneliti mengembangkan sistem inferensi otomatis untuk meniru inferensi manusia.inferensi statistik memungkinkan untuk kesimpulan dari data kuantitatif.
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar. Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai idiomatik. Hukum valid inference dipelajari dalam bidang logika.
Inferensi manusia (yaitu bagaimana manusia menarik kesimpulan) secara tradisional dipelajari dalam bidang psikologi kognitif, kecerdasan buatan para peneliti mengembangkan sistem inferensi otomatis untuk meniru inferensi manusia.inferensi statistik memungkinkan untuk kesimpulan dari data kuantitatif.
· Definisi
Implikasi
Implikasi adalah rangkuman, yaitu sesuatu dianggap ada karena sudah dirangkum dalam fakta atau evidensi itu sendiri. Banyak dari kesimpulan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis harus disusun dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang tercakup dalam evidensi (=implikasi), dan kesimpulan yang masuk akal berdasarkan implikasi (=inferensi).
Implikasi adalah rangkuman, yaitu sesuatu dianggap ada karena sudah dirangkum dalam fakta atau evidensi itu sendiri. Banyak dari kesimpulan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis harus disusun dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang tercakup dalam evidensi (=implikasi), dan kesimpulan yang masuk akal berdasarkan implikasi (=inferensi).
Wujud Evidensi
Evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua
informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk
membuktikan suatu kebenaran. Dalam argumentasi, seorang penulis boleh
mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia menganggap pembaca
sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya
kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan daripadanya.
Evidensi itu
berbentuk data atau informasi, yaitu bahan keterangan yang diperoleh dari suatu
sumber tertentu, biasanya berupa statistik, dan keterangan-keterangan yang
dikumpulkan atau diberikan oleh orang-orang kepada seseorang, semuanya
dimasukkan dalam pengertian data (apa yang diberikan) dan informasi (bahan
keterangan).
Cara menguji Data, Fakta, dan
Autoritas
a)
Cara menguji
Data
Data dan informasi yang digunakan
dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian
melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap
digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan
untuk pengujian tersebut :
·
Observasi
·
Kesaksian
·
Autoritas
b)
Cara menguji
Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau
informasi yang diperoleh adalah fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian
tersebut ada dua tingkat. Yang pertama untuk meyakinkan bahwa semua bahan data
tersebut adalah fakta. Yang kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat
digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
Cara menguji fakta ada dua yaitu
:
·
Konsistensi
·
Koheresi
c)
Cara menguji
Autoritas
Menghidari semua desas-desus atau kesaksian,
baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat
yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental. Ada
beberapa cara sebagai berikut :
·
Tidak mengandung prasangka pendapat disusun berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh para ahli atau didasarkan pada hasil eksperimen
yang dilakukannya.
·
Pengalaman dan pendidikan autoritas. Dasar kedua menyangkut pengalaman dan
pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal.
Pendidikan yang diperoleh harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan
sebagai seorang ahli. Pengalaman yang diperoleh autoritas, penelitian yang
dilakukan, presentasi hasilpenelitian dan pendapatnya akan memperkuat
kedudukannya.
·
Kemashuran dan prestise. Ketiga yang harus diperhatikan adalah
meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas
hanya sekedar bersembunyi dibalik kemashuran dan prestise pribadi di bidang
lain.
·
Koherensi dengan kemajuan. Hal keempat adalah apakah pendapat yang
diberikan autoritas sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman atau koheren
dengan pendapat sikap terakhir dalam bidang itu.
Berfkir Deduktif
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction
yang berarti penarikankesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan
yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau
di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang
bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan
pola berpikir yang dinamakan silogismus. Metode berpikir deduktif adalah metode
berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya
dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Berfikir Induktif
Berpikir induktif adalah metode yang
digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum
yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang
belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Karangan Ilmiah dan Nonilmiah
Karangan
Ilmiah
Karangan ilmiah atau biasa disebut karangan
ilmiah merupakan suatu tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang
dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis dan
menyajikan fakta umum serta ditulis menurut metedologi penulisan yang benar.
Karya ilmiah ditulis dengan bahasa yang konkret, gaya bahasanya formal,
kata-katanya teknis dan didukung fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya .
Menurut JohnDewey ada lima langkah pokok proses ilmiah, antara lain :
Menurut JohnDewey ada lima langkah pokok proses ilmiah, antara lain :
1)
mengenali
dan merumuskan masalah
2)
menyusun
kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis
3)
merumuskan
hipotesis ataudugaan hasil sementara
4)
menguji
hipotesis
5)
menarik kesimpulan.
ciri-ciri karya ilmiah antara lain:
1)
Objektif.
Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya.Juga setiap pernyataan atau simpulan yangdisampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan
Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya.Juga setiap pernyataan atau simpulan yangdisampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan
2)
Netral
Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
3)
Sistematis
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti polapengembangan tertentu
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti polapengembangan tertentu
4)
Logis
Kelogisan bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktifpola induktif digunakan untuk menyimpulkan suatu fakta sebaliknya pola deduktif digunakan untuk membuktikan suatu teori
Kelogisan bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktifpola induktif digunakan untuk menyimpulkan suatu fakta sebaliknya pola deduktif digunakan untuk membuktikan suatu teori
5)
Menyajikan
fakta (bukan emosi atau perasaan)
Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta
Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta
6)
Tidak
Pleonastis
Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan atau langsung tepat menuju sasaran
Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan atau langsung tepat menuju sasaran
7)
Bahasa yang
digunakan adalah ragam formal.
Karangan Non
Ilmiah
Karangan non ilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum, ditulis berdasarkan fakta pribadi, umumnya bersifat subyektif, gaya bahasa biasanya abstrak , gaya bahasanya formal dan popular.
Karya non ilmiah bersifat:
Karangan non ilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum, ditulis berdasarkan fakta pribadi, umumnya bersifat subyektif, gaya bahasa biasanya abstrak , gaya bahasanya formal dan popular.
Karya non ilmiah bersifat:
1)
Emotif :
kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan
dan sedikit informasi.
2)
Persuasif:
penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi
sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
3)
Deskriptif :
pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
4)
Kritik tanpa
dukungan bukti.
Perbedaan Karangan Ilmiah dengan Nonilmiah
Istilah karangan ilmiah dan nonilmiah
merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam tulis-menulis.
Kita dapat membedakannya dari masing-masing pengertian antara karya ilmiah dan
karya non ilmiah.
Metode Ilmiah
Metode Ilmian Metode ilmiah merupakan suatu prosedur
atau urutan langkah yang harus dilakukan untuk melakukan suatu proyek ilmiah.
Metode ilmiah juga dapat didefinisikan
sebagai cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan
penjelasan kebenaran.
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur
(urutan langkah) yang harus dilakukan untuk melakukan suatu proyek ilmiah.
Metode ilmiah atau proses ilmiah (bahasa Inggris: scientific
method) merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara
sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta
membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi
yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen.
Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi
suatu teori ilmiah. (wikipedia)
Tujuan Mempelajari Metode Ilmiah
1)
Untuk
meningkatkan keterampilan, baik dalam menulis, menyusun, mengambil kesimpulan
maupun dalam menerapkan prinsip-prinsip yang ada.
2)
Untuk
mengorganisasikan fakta
3)
Merupakan
suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan
logis.
4)
Untuk
mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan data
yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan
kesimpulan.
5)
Mendapatkan
pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga merupakan pengetahuan
yang dapat diandalkan.
Langkah-langkah Metode Ilmiah
1.
Perumusan
masalah
Pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas
batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan factor-faktor yang terkait di
dalamnya.
2.
Penyusunan
kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis.
Argumentasi yang menjelaskan hubungan yang
mungkin terdapat antara berbagai factor yang saling mengikat dan membentuk
konstelasi permaslahan. Disusun secara rasional berdasrakan premis-premis
ilmiah yang teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor
empiris yang relefan dengan permasalahannya.
3.
Perumusan
hipotesis
Jawaban sementara atau dugaan jawaban
pertanyaanyang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka
berpikir yang dikembangkan.
4.
Pengujian
hipotesis
Pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan
hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang
mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5.
Penarikan
kesimpulan
Penilaian apakah sebuah hipotesis yang
diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat
fakta yang cukup yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Dan
sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang yang
cukup yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu ditolak.
Daftar Pustaka
Jumanta. Tanpa Tahun. Penalaran Dalam Proses Penulisan Ilmiah. Dalamhttp://jumanta.com/download/doc_download/15-pertemuan7c-proses-penalaran-ilmiah.html
Prayogi, Aryo. 2011. Penulisan Ilmiah. Dalam http://aryonelmessi.wordpress.com/2011/02/24/penulisan-ilmiah-2/
Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta
: Grasindo.
Sarwono, Jonathan. 2010. Pintar Menulis Karangan Ilmiah - Kunci
Sukses dalam Menulis Ilmiah.Yogyakarta : Andi Offset.
No comments :
Post a Comment